Itil Practitioner
agen sbobet

Cerita Bokep Nikmatnya Meki Tante Yuni yang Genit

Wednesday, June 1st, 2016 - Cerita Sex, Foto Cewek Bugil, Streaming Bokep Ngemut
Itil Reviews

Cerita Bokep Nikmatnya Meki Tante Yuni yang Genit – Cerita sex Dewasa paling hot ( tanteku ngajak ML ) Pada cerita sex dewasa ini bercerita tentang pengalaman temanku yang berhasil menikmati tubuh seorang tante girang bernama Yuni. Silahkan dibaca cerita dewasa tante girang selengkapnya dibawah ini. Sejak setelah menikah, ibu tinggal di rumah kecil kami beberapa bulan sambil menunggu bangunan rumah baru mereka selesai. Lagi-lagi, rumah baru mereka tidak jauh dari bengkel ayah. Ayah menolak tinggal di rumah tante Yulina karena alasan pribadi ayah. Setelah banyak process yang dilakukan antara ayah dan ibu, akhirnya bengkel tempat ayah bekerja, kini menjadi milik ayah dan ibu sepenuhnya. Ayah pernah memohon kepada ibu agar dia ingin tetap dapat bekerja di bengkel, dan terang saja bengkel itu langsung ibu putuskan untuk dibeli saja. Maklum ibu adalah ‘business-minded person’.

Aku semakin sayang dengan ibu, karena pada akhirnya cita-cita ayah untuk memiliki bengkel sendiri terkabulkan. Kini bengkel ayah makin besar setelah ibu ikut berperan besar di sana. Banyak renovasi yang mereka lakukan yang membuat bengkel ayah tampak lebih menarik. Pelanggan ayah makin bertambah, dan kali ini banyak dari kalangan orang-orang kaya. Ayah tidak memecat pegawai-pegawai lama di sana, malah menaikkan gaji mereka dan memperlakukan mereka seperti saat dia diperlakukan oleh pemilik bengkel yang lama. Kehidupan dan gaya hidupku & ayah benar-benar berubah 180 derajat. Kini ayah sering melancong ke luar negeri bersama ibu, dan aku sering ditinggal di rumah sendiri dengan pembantu. Alasan aku ditinggal mereka karena aku masih harus sekolah. Ibu sering mengundang teman-teman lamanya bermain di rumah. Salah satu temannya bernama tante Yuni. tante Yuni saat itu hanya 15 tahun lebih tua dariku. Semestinya dia pantas aku panggil kakak daripada tante, karena wajahnya yang masih terlihat seperti orang berumur 20 tahunan. Tanti Yuni adalah pelanggan tetap salon kecantikan ibu, dan kemudian menjadi teman baik ibu.

Wajah tante Yuni tergolong cantik dengan kulitnya yang putih bersih. Dadanya tidak begitu besar, tapi pinggulnya indah bukan main. Maklum anak orang kaya yang suka tandang ke salon kecantikan. tante Yuni sering main ke rumah dan kadang kala ngobrol atau gossip dengan ibu berjam-jam. Tidak jarang tante Yuni keluar bersama kami sekeluarga untuk nonton bioskop, window shopping atau ngafe di mall. Aku pernah sempat bertanya tentang kehidupan pribadi tante Yuni. Ibu bercerita bahwa tante Yuni itu bukanlah janda cerai atau janda apalah. Tapi tante Yuni sempat ingin menikah, tapi ternyata pihak dari laki-laki memutuskan untuk mengakhiri pernikahan itu. Alasan-nya tidak dijelaskan oleh ibu, karena mungkin aku masih terlalu muda untuk mengerti hal-hal seperti ini. Pada suatu hari ayah dan ibu lagi-lagi cabut dari rumah. Tapi kali ini mereka tidak ke luar negeri, tapi hanya melancong ke kota Bandung saja selama akhir pekan.

Lagi-lagi hanya aku dan pembantu saja yang tinggal di rumah. Saat itu aku ingin sekali kabur dari rumah, dan menginap di rumah teman. Tiba-tiba bel rumah berbunyi dan waktu itu masih jam 5:30 sore di hari Sabtu. Ayah dan ibu baru 1/2 jam yang lalu berangkat ke Bandung. Aku pikir mereka kembali ke rumah mengambil barang yang ketinggalan. Sewaktu pintu rumah dibuka oleh pembantu, suara tante Yuni menyapanya. Aku hanya duduk bermalas-malasan di sofa ruang tamu sambil nonton acara TV. Tiba-tiba aku disapanya. ‘Bernas kok ngga ikut papa mama ke Bandung??’ tanya tante Yuni. ‘Kalo ke Bandung sih Bernas malas, tante. Kalo ke Singapore Bernas mau ikut.’ jawabku santai. ‘Yah kapan-kapan aja ikut tante ke Singapore. tante ada apartment di sana’ tungkas tante Yuni. Aku pun hanya menjawab apa adanya ‘Ok deh. Ntar kita pigi rame-rame aja. tante ada perlu apa dengan mama?? Nyusul aja ke Bandung kalo penting.’. ‘

Kagak ada sih. tante cuman pengen ajak mamamu makan aja. Yah sekarang tante bakalan makan sendirian nih. Bernas mau ngga temenin tante??’. ‘Emang tante mau makan di mana??’ ‘tante sih mikir Pizza Hut.’ ‘Males ah ogut kalo Pizza Hut.’ ‘Trus Bernas maunya pengen makan apa??’ ‘Makan di Muara Karang aja tante. Di sono kan banyak pilihan, ntar kita pilih aja yang kita mau.’ ‘Oke deh. Mau cabut jam berapa??’ ‘Entaran aja tante. Bernas masih belon laper. Jam tujuh aja berangkat. tante duduk aja dulu.’ Kami berdua nonton bersebelahan di sofa yang empuk. Sore itu tante Yuni mengenakan baju yang lumayan sexy. Dia memakai rok ketat sampai 10 cm di atas lutut, dan atasannya memakai baju berwarna orange muda tanpa lengan dengan bagian dada atas terbuka (kira-kira antara 12 sampai 15cm kebawah dari pangkal lehernya). Kaki tante Yuni putih mulus, tanpa ada bulu kaki 1 helai pun.

Mungkin karena dia rajin bersalon ria di salon ibu, paling tidak seminggu 2 kali. Bagian dada atasnya juga putih mulus. Kami nonton TV dengan acara/channel seadanya saja sambil menunggu sampai jam tujuh malam. Kami juga kadang-kadang ngobrol santai, kebanyakan tante Yuni suka bertanya tentang kehidupan sekolahku sampai menanyakan tentang kehidupan cintaku di sekolah. Aku mengatakan kepada tante Yuni bahwa aku saat itu masih belum mau terikat dengan masalah percintaan jaman SMA. Kalo naksir sih ada, cuma aku tidak sampai mengganggap terlalu serius.

Semakin lama kami berbincang-bincang, tubuh tante Yuni semakin mendekat ke arahku. Bau parfum Chanel yg dia pakai mulai tercium jelas di hidungku. Tapi aku tidak mempunyai pikiran apa-apa saat itu. Tiba-tiba tante Yuni berkata, ‘Bernas, kamu suka dikitik-kitik ngga kupingnya??’. ‘Huh?? Mana enak??’ tanyaku. ‘Mau tante kitik kuping Bernas??’ tante Yuni menawarkan/ ‘Hmmm…boleh aja. Mau pake cuttonbud??’ tanyaku sekali lagi. ‘Ga usah, pake bulu kemucing itu aja’ tundas tante Yuni. ‘Idih jorok nih tante. Itu kan kotor. Abis buat bersih-bersih ama mbak.’ jawabku spontan. ‘Alahh sok bersihan kamu Bernas. Kan cuman ambil 1 helai bulunya aja. Lagian kamu masih belum mandi kan?? Jorok mana hayo!!!’ tangkas tante Yuni. ‘Percaya tante deh, kamu pasti demen. Sini baring kepalanya di paha tante.’ lanjutnya. Seperti sapi dicucuk hidungnya, aku menurut saja dengan tingkah polah tante Yuni. Ternyata memang benar adanya, telinga ‘dikitik-kitik’ dengan bulu kemucing benar-benar enak tiada tara.

Baru kali itu aku merasakan enaknya, serasa nyaman dan pengen tidur aja jadinya. Dan memang benar, aku jadi tertidur sampe sampai jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Suara lembut membisikkan telingaku. ‘Bernas, bangun yuk. tante dah laper nih.’ kata tante. ‘Erghhhmmm … jam berapa sekarang tante.’ tanyaku dengan mata yang masih setengah terbuka. ‘Udah jam tujuh lewat Bernas. Ayo bangun, tante dah laper. Kamu dari tadi asyik tidur tinggalin tante. Kalo dah enak jadi lupa orang kamu yah.’ kata tante sambil mengelus lembut rambutku. ‘Masih ngantuk nih tante … makan di rumah aja yah?? Suruh mbak masak atau beli mie ayam di dekat sini.’ ‘Ahhh ogah, tante pengen jalan-jalan juga kok.

Bosen dari tadi bengong di sini.’ ‘Oke oke, kasih Bernas lima menit lagi deh tante.’ mintaku. ‘Kagak boleh. tante dah laper banget, mau pingsan dah.’ Sambil malas-malasan aku bangun dari sofa. Kulihat tante Yuni sedang membenarkan posisi roknya kembali. Alamak gaya tidurku kok jelek sekali sih sampe-sampe rok tante Yuni tersingkap tinggi banget. Berarti dari tadi aku tertidur di atas paha mulus tante Yuni, begitulah aku berpikir. Ada rasa senang juga di dalam hati. Setelah mencuci muka, ganti pakaian, kita berdua berpamitan kepada pembantu rumah kalau kita akan makan keluar. Aku berpesan kepada pembantu agar jangan menunggu aku pulang, karena aku yakin kita pasti bakal lama. Jadi aku membawa kunci rumah, untuk berjaga-jaga apabila pembantu rumah sudah tertidur. ‘Nih kamu yang setir mobil tante dong.’ ‘Ogah ah, Bernas cuman mau setir Baby Benz tante.

Kalo yang ini males ah.’ candaku. Waktu itu tante Yuni membawa sedan Honda, bukan Mercedes-nya. ‘Belagu banget kamu. Kalo ngga mau setir ini, bawa itu Benz-nya mama.’ balas tante Yuni. ‘No way … bisa digantung ogut ama papa mama.’ jawabku. ‘Iya udah kalo gitu setir ini dong.’ jawab tante Yuni sambil tertawa kemenangan. Mobil melaju menyusuri jalan-jalan kota Jakarta. tante Yuni seperti bebek saja, ngga pernah stop ngomong and gossipin teman-temannya. Aku jenuh banget yang mendengar. Dari yang cerita pacar teman-temannya lah, sampe ke mantan tunangannya. Sesampai di daerah Muara Karang, aku memutuskan untuk makan bakmi bebeknya yang tersohor di sana. Untung tante Yuni tidak protes dengan pilihan saya, mungkin karena sudah terlalu lapar dia. Setelah makan, kita mampir ke tempat main bowling. Abis main bowling tante Yuni mengajakku mampir ke rumahnya. tante Yuni tinggal sendiri di apartemen di kawasan Taman Anggrek. Dia memutuskan untuk tinggal sendiri karena alasan pribadi juga. Ayah dan ibu tante Yuni sendiri tinggal di Bogor. Saat itu aku tidak tau apa pekerjaan sehari-hari tante Yuni, yang tante Yuni tidak pernah merasa kekurangan materi. Apartemen tante Yuni lumayan bagus dengan tata interior yang classic.

Di sana tidak ada siapa-siapa yang tinggal di sana selain tante Yuni. Jadi aku bisa maklum apabila tante Yuni sering keluar rumah. Pasti jenuh apabila tinggal sendiri di apartemen. ‘Anggap rumah sendiri Bernas. Jangan malu-malu. Kalau mau minum ambil aja sendiri yah.’ ‘Kalo begitu, Bernas mau yang ini.’ sambil menunjuk botol Hennessy V.S.O.P yang masih disegel. ‘Kagak boleh, masih dibawah umur kamu.’ cegah tante Yuni. ‘Tapi Bernas dah umur 1tujuh tahun. Mestinya ngga masalah’ jawabku dengan bermaksud membela diri. ‘Kalo kamu memaksa yah udah. Tapi jangan buka yang baru, tante punya yang sudah dibuka botolnya.’. Tiba-tiba suara tante Yuni menghilang dibalik master bedroomnya. Aku menganalisa ruangan sekitarnya. Banyak lukisan-lukisan dari dalam dan luar negeri terpampang di dinding.

Lukisan dalam negerinya banyak yang bergambarkan wajah-wajah cantik gadis-gadis Bali. Lukisan yang berbobot tinggi, dan aku yakin pasti bukan barang yang murahan. ‘Itu tante beli dari seniman lokal waktu tante ke Bali tahun lalu’ kata tante Yuni memecahkan suasana hening sebelumnya. ‘Bagus tante. High taste banget. Pasti mahal yah??!!!’ jawabku kagum. ‘Ngga juga sih. Tapi tante tidak pernah menawar harga dengan seniman itu, karena seni itu mahal. Kalo tante tidak cocok dengan harga yang dia tawarkan, tante pergi saja.’ Aku masih menyibukkan diri mengamati lukisan-lukisan yang ada, dan tante Yuni tidak bosan menjelaskan arti dari lukisan-lukisan tersebut. tante Yuni ternyata memiliki kecintaan tinggi terhadap seni lukis. ‘Ok deh. Kalo begitu Bernas mau pamit pulang dulu tante. Dah hampir jam 11 malam. tante istirahat aja dulu yah.’ kataku. ‘Ehmmm … tinggal dulu aja di sini. tante juga masih belum ngantuk. Temenin tante bentar yah.’ mintanya sedikit memohon. Aku juga merasa kasihan dengan keadaan tante Yuni yang tinggal sendiri di apartemen itu. Jadi aku memutuskan untuk tinggal 1 atau 2 jam lagi, sampai nanti tante Yuni sudah ingin tidur. ‘Kita main UNO yuk??!!!’ ajak tante Yuni. ‘Apa itu UNO??!!!’ tanyaku penasaran. ‘Walah kamu ngga pernah main UNO yah??’ tanya tante Yuni. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. ‘Wah kamu kampung boy banget sih.’ canda tante Yuni. Aku hanya memasang tampak cemburut canda. tante Yuni masuk ke kamarnya lagi untuk membawa kartu UNO, dan kemudian masuk ke dapur untuk mempersiapkan hidangan bersama minuman. tante Yuni membawa kacang mente asin, segelas wine merah, dan 1 gelas Hennessy V.S.O.P on rock (pake es batu). Setelah mengajari aku cara bermain UNO, kamipun mulai bermain-main santai sambil makan kacang mente. Hennesy yang aku teguk benar-benar keras, dan baru 2 atau 3 teguk badanku terasa panas sekali. Aku biasanya hanya dikasih 1 sisip saja oleh ayah, tapi ini skrg aku minum sendirian.

Kepalaku terasa berat, dan mukaku panas. Melihat kejadian ini, tante Yuni menjadi tertawa, dan mengatakan bahwa aku bukan bakat peminum. Terang aja, ini baru pertama kalinya aku minum 1 gelas Hennessy sendirian. ‘tante, anterin Bernas pulang yah. Kepala ogut rada berat.’ ‘Kalo gitu stop minum dulu, biar ngga tambah pusing.’ jawab tante Yuni. Aku merasa tante Yuni berusaha mencegahku untuk pulang ke rumah. Tapi lagi-lagi, aku seperti sapi dicucuk hidung-nya, apa yang tante Yuni minta, aku selalu menyetujuinya. Melihat tingkahku yang suka menurut, tante Yuni mulai terlihat lebih berYuni lagi. Dia mengajakku main kartu biasa saja, karena bermain UNO kurang seru kalau hanya berdua. Paling tepat untuk bermain UNO itu berempat. Tapi permainan kartu ini menjadi lebih seru lagi. tante mengajak bermain blackjack, siapa yang kalah harus menuruti permintaan pemenang. Tapi kemudian tante Yuni ralat menjadi ‘Truth & Dare’ game. Permainan kami menjadi seru dan terus terang aja tante Yuni sangat menikmati permainan ‘Truth & Dare’, dan dia sportif apabila dia kalah. Pertama-tama bila aku menang dia selalu meminta hukuman dengan ‘Truth’ punishment, lama-lama aku menjadi semakin berYuni menanyakan yang bukan-bukan. Sebaliknya dengan tante Yuni, dia lebih suka memaksa aku untuk memilih ‘Dare’ agar dia bisa lebih leluasa mengerjaiku.

Dari yang disuruh pushup 1 tangan, menari balerina, menelan es batu seukuran bakso, dan lain-lain. Mungkin juga tidak ada pointnya buat tante Yuni menanyakan the ‘Truth’ tentang diriku, karena kehidupanku terlihat lurus-lurus saja menurutnya. Ini adalah juga kesempatan untuk menggali the ‘Truth’ tentang kehidupan pribadinya. Aku pun juga heran kenapa aku menjadi tertarik untuk mencari tahu kehidupannya yang sangat pribadi. Mula-mula aku bertanya tentang mantan tunangannya, kenapa sampai batal pernikahannya. Sampai pertanyaan yang menjurus ke sex seperti misalnya kapan pertama kali dia kehilangan keperawanan. Semuanya tanpa ragu-ragu tante Yuni jawab semua pertanyaan-pertanyaan pribadi yang aku lontarkan. Kini permainan kami semakin wild dan berYuni. tante Yuni mengusulkan untuk mengkombinasikan ‘Truth & Dare’ dengan ‘Strip Poker’. Aku pun semakin bergairah dan menyetujui saja usul tante Yuni. ‘Yee, tante menang lagi. Ayo lepas satu yang menempel di badan kamu.’ kata tante Yuni dengan senyum kemenangan. ‘Jangan gembira dulu tante, nanti giliran tante yang kalah. Jangan nangis loh yah kalo kalah.’ jawabku sambil melepas kaus kakiku. Selang beberapa lama … ‘Nahhh, kalah lagi … kalah lagi … lepas lagi … lepas lagi.’. tante Yuni kelihatan gembira sekali. Kemudian aku melepas kalung emas pemberian ibu yang aku kenakan. ‘Ha ha ha … two pairs, punya tante one pair. Yes yes … tante kalah sekarang. Ayo lepas lepas …’ candaku sambil tertawa gembira. ‘Jangan gembira dulu. tante lepas anting tante.’ jawab tante sambil melepas anting-anting yang dikenakannya. Aku makin bernapsu untuk bermain. Mungkin bernapsu untuk melihat tante Yuni bugil juga. Aku pengen sekali menang terus. ‘Full house … yeahhh … kalah lagi tante. Ayo lepas … ayo lepas …’. Aku kini menari-nari gembira. Terlihat tante Yuni melepas jepit rambut merahnya, dan aku segera saja protes ‘Loh, curang kok lepas yang itu??’. ‘Loh, kan peraturannya lepas semuanya yang menempel di tubuh. Jepit tante kan nempel di rambut dan rambut tante melekat di kepala. Jadi masih dianggap menempel dong.’ jawabnya membela. Aku rada gondok mendengar pembelaan tante Yuni. Tapi itu menjadikan darahku bergejolak lebih deras lagi. ‘Straight … Bernas … One Pair … Yes tante menang. Ayo lepas!!! Jangan malu-malu!!!’ seru tante Yuni girang. Aku pun segera melepas jaket aku yang kenakan. Untung aku selalu memakai jaket tipis biar keluar malam.

Lihatlah pembalasanku, kataku dalam hati. ‘Bernas Three kind … tante … one pair … ahhh … lagi-lagi tante kalah’ sindirku sambil tersenyum. Dan tanpa diberi aba-aba dan tanpa malu-malu, tante melepas baju atasannya. Aku serentak menelan ludah, karena baju atasan tante telah terlepas dan kini yang terlihat hanya bra putih tante. Belahan payudara-nya terlihat jelas, putih bersih. Bernas junior dengan serentak langsung menegang, dan kedua mataku terpaku di daerah belahan dadanya. ‘Hey, lihat kartu dong. Jangan liat di sini.’ canda tante sambil menunjuk belahan dadanya. Aku kaget sambil tersenyum malu. ‘Yes Full House, kali ini tante menang. Ayo buka … buka’. Tampak tante Yuni girang banget bisa dia menang. Kali ini aku lepas atasanku, dan kini aku terlanjang dada. ‘Ck ck ck … pemain basket nih. Badan kekar dan hebat. Coba buktikan kalo hokinya juga hebat.’ sindir tante Yuni sambil tersenyum. Setelah menegak habis wine yang ada di gelasnya, tante Yuni kemudian beranjak dari tempat duduknya menuju ke dapur dengan keadaan dada setengah terlanjang. Tak lama kemudian tante Yuni membawa sebotol wine merah yang masih 3/4 penuh dan sebotol V.S.O.P yang masih 1/2 penuh. ‘Mari kita bergembira malam ini. Minum sepuas-puasnya.’ ucap tante Yuni. Kami saling ber-tos ria dan kemudian melanjutkan kembali permainan strip poker kami. ‘Yesss … ‘ seruku dengan girangnya pertanda aku menang lagi. Tanpa disuruh, tante Yuni melepas rok mininya dan aduhaiii, kali ini tante Yuni hanya terliat mengenakan bra dan celana dalam saja.

Malam itu dia mengenakan celana dalam yang kecil imut berwarna pink cerah. Tidak tampak ada bulu-bulu pubis disekitar selangkangannya. Aku sempat berpikir apakah tante Yuni mencukur semua bulu-bulu pubisnya. Muka tante Yuni sedikit memerah. Kulihat tante Yuni sudah menegak abis gelas winenya yang kedua. Apakah dia berniat untuk mabuk malam ini?? Aku kurang sedikit perduli dengan hal itu. Aku hanya bernafsu untuk memenangkan permainan strip poker ini, agar aku bisa melihat tubuh terlanjang tante Yuni. ‘Yes, yes, yes …’ senyum kemenangan terlukis indah di wajahku. tante Yuni kemudian memandangkan wajahku selang beberapa saat, dan berkata dengan nada genitnya ‘Sekarang Bernas tahan napas yah. Jangan sampai seperti kesetrum listrik loh’. Kali ini tante Yuni melepaskan bra-nya dan serentak jatungku ingin copot. Benar apa kata tante Yuni, aku seperti terkena setrum listrik bertegangan tinggi. Dadaku sesak, sulit bernapas, dan jantungku berdegup kencang. Inilah pertama kali aku melihat payudara wYunita dewasa secara jelas di depan mata. Payudara tante Yuni sungguh indah dengan putingnya yang berwarna coklat muda menantang. ‘Aih Bernas, ngapain liat susu tante terus. tante masih belum kalah total. Mau lanjut ngga??’ tanya tante Yuni. Aku hanya bisa menganggukkan kepala pertanda ‘iya’. ‘Pertama kali liat susu cewek yah?? Ketahuan nih. Dasar genit kamu.’ tambah tante Yuni lagi. Aku sekali lagi hanya bisa mengangguk malu. Aku menjadi tidak berkonsentrasi bermain, mataku sering kali melirik kedua payudaranya dan selangkangannya. Aku penasaran sekali ada apa dibalik celana dalam pinknya itu.

Tempat di mana menurut teman-teman sekolah adalah surga dunia para lelaki. Aku ingin sekali melihat bentuknya dan kalo bisa memegang atau meraba-raba. Akibat tidak berkonsentrasi main, kali ini aku yang kalah, dan tante Yuni meminta aku melepas celana yang aku kenakan. Kini aku terlanjang dada dengan hanya mengenakan celana dalam saja. tante Yuni hanya tersenyum-senyum saja sambil menegak wine-nya lagi. Aku sengaja menolak tawaran tante Yuni untuk menegak V.S.O.P-nya, dengan alasan takut pusing lagi. Karena kami berdua hanya tinggal 1 helai saja di tubuh kami, permainan kali ini ada finalnya. Babak penentuan apakah tante Yuni akan melihat aku terlanjang bulat atau sebaliknya. Aku berharap malam itu malaikat keberuntungan berpihak kepadaku. Ternyata harapanku sirna, karena ternyata malaikat keberuntungan berpihak kepada tante Yuni. Aku kecewa sekali, dan wajah kekecewaanku terbaca jelas oleh tante Yuni. Sewaktu aku akan melepas celana dalamku dengan malu-malu, tiba-tiba tante Yuni mencegahnya. ‘Tunggu Bernas. tante ngga mau celana dalam mu dulu. tante mau Dare Bernas dulu. Ngga seru kalo game-nya cepat habis kayak begini’ kata tante Yuni. Setelah meneguk wine-nya lagi, tante Yuni terdiam sejenak kemudian tersenyum genit. Senyum genitnya ini lebih menantang daripada yang sebelum-sebelumnya. ‘tante dare Bernas untuk … hmmm … cium bibir tante sekarang.’ tantang tante Yuni. ‘Ahh, yang bener tante??’ tanyaku. ‘Iya bener, kenapa ngga mau?? Jijik ama tante??’ tanya tante Yuni. ‘Bukan karena itu. Tapi … Bernas belum pernah soalnya.’ jawabku malu-malu. ‘Iya udah, kalo gitu cium tante dong. Sekalian pelajaran pertama buat Bernas.’ kata tante Yuni.

Tanpa berpikir ulang, aku mulai mendekatkan wajahku ke wajah tante Yuni. tante Yuni kemudian memejamkan matanya. Pertamanya aku hanya menempelkan bibirku ke bibir tante Yuni. tante Yuni diam sebentar, tak lama kemudian bibirnya mulai melumat-lumat bibirku perlahan-lahan. Aku mulai merasakan bibirku mulai basah oleh air liur tante Yuni. Bau wine merah sempat tercium di hidungku. Aku pun tidak mau kalah, aku berusaha menandinginya dengan membalas lumatan bibir tante Yuni. Maklum ini baru pertama, jadi aku terkesan seperti anak kecil yang sedang melumat-lumat ice cream. Selang beberapa saat, aku kaget dengan tingkah baru tante Yuni. tante Yuni dengan serentak menjulurkan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Anehnya aku tidak merasa jijik sama sekali, malah senang dibuatnya. Aku temukan lidahku dengan lidah tante Yuni, dan kini lidah kami kemudian saling berperang di dalam mulutku dan terkadang pula di dalam mulut tante Yuni. Kami saling berciuman bibir dan lidah kurang lebih 5 menit lamanya.

Nafasku sudah tak karuan, dah kupingku panas dibuatnya. tante Yuni seakan-akan menikmati betul ciuman ini. Nafas tante Yuni pun masih teratur, tidak ada tanda sedikitpun kalau dia tersangsang. ‘Sudah cukup dulu. Ayo kita sambung lagi pokernya’ ajak tante Yuni. Aku pun mulai mengocok kartunya, dan pikiranku masih terbayang saat kita berciuman. Aku ingin sekali lagi mencium bibir lembutnya. Kali ini aku menang, dan terang saja aku meminta jatah sekali lagi berciuman dengannya. tante Yuni menurut saja dengan permintaanku ini, dan kami pun saling berciuman lagi. Tapi kali ini hanya sekitar 2 atau 3 menit saja. ‘Udah ah, jangan ciuman terus dong. Ntar Bernas bosan ama tante.’ candanya. ‘Masih belon bosan tante. Ternyata asyik juga yah ciuman.’ jawabku. ‘Kalo ciuman terus kurang asyik, kalo mau sih …’ seru tante Yuni kemudian terputus. Kalimat tante Yuni ini masih menggantung bagiku, seakan-akan dia ingin mengatakan sesuatu yang menurutku sangat penting. Aku terbayang-bayang untuk bermain ‘gila’ dengan tante Yuni malam itu. Aku semakin berYuni dan menjadi sedikit tidak tau diri. Aku punya perasaan kalo tante Yuni sengaja untuk mengalah dalam bermain poker malam itu. Terang aja aku menang lagi kali ini. Aku sudah terburu oleh napsuku sendiri, dan aku sangat memanfaatkan situasi yang sedang berlangsung. ‘Bernas menang lagi tuh. Jangan minta ciuman lagi yah. Yang lain dong …’ sambut tante Yuni sambil menggoda. ‘Hmm … apa yah.’ pikirku sejenak. ‘Gini aja, Bernas pengen emut-emut susu tante Yuni.’ jawabku tidak tau malu. Ternyata wajah tante Yuni tidak tampak kaget atau marah, malah balik tersenyum kepadaku sambil berkata ‘Sudah tante tebak apa yang ada di dalam pikiran kamu, Bernas.’. ‘Boleh kan tante??!!!’ tanyaku penasaran. tante Yuni hanya mengangguk pertanda setuju. Kemudian aku dekatkan wajahku ke payudara sebelah kanan tante Yuni.

Bau parfum harum yang menempel di tubuhnya tercium jelas di hidungku. Tanpa ragu-ragu aku mulai mengulum puting susu tante Yuni dengan lembut. Kedua telapak tanganku berpijak mantap di atas karpet ruang tamu tante Yuni, memberikan fondasi kuat agar wajahku tetap bebas menelusuri payudara tante Yuni. AKu kulum bergantian puting kanan dan puting kiri-nya. Kuluman yang tante Yuni dapatkan dariku memberikan sensasi terhadap tubuh tante Yuni. Dia tampak menikmati setiap hisapan-hisapan dan jilatan-jilatan di puting susu-nya. Nafas tante Yuni perlahan-lahan semakin memburu, dan terdengar desahan dari mulutnya. Kini aku bisa memastikan bahwa tante Yuni saat ini sedang terangsang atau istilah modern-nya ‘horny’. ‘Bernasss … kamu nakal banget sih!!! … haahhh … tante kamu apain??’ bisik tante Yuni dengan nada terputus-putus. Aku tidak mengubris kata-kata tante Yuni, tapi malah semakin bersemangat memainkan kedua puting susunya. tante Yuni tidak memberikan perlawanan sedikitpun, malah seolah-olah seperti memberikan lampu hijau kepadaku untuk melakukan hal-hal yang tidak senonoh terhadap dirinya. Aku mencoba mendorong tubuh tante Yuni perlahan-lahan agar dia terbaring di atas karpet. Ternyata tante Yuni tidak menahan/menolak, bahkan tante Yuni hanya pasrah saja. Setelah tubuhnya terbaring di atas karpet, aku menghentikan serangan gerilyaku terhadap payudara tante Yuni. Aku perlahan-lahan menciumi leher tante Yuni, dan oh my, wangi betul leher tante Yuni. tante Yuni memejamkan kedua matanya, dan tidak berhenti-hentinya mendesah. Aku jilat lembut kedua telinganya, memberikan sensasi dan getaran yang berbeda terhadap tubuhnya. Aku tidak mengerti mengapa malam itu aku seakan-akan tau apa yang harus aku lakukan, padahal ini baru pertama kali seumur hidupku menghadapi suasana seperti ini. Kemudian aku melandaskan kembali bibirku di atas bibir tante Yuni, dan kami kembali berciuman mesra sambil berperang lidah di dalam mulutku dan terkadang di dalam mulut tante Yuni. Tanganku tidak tinggal diam. Telapak tangan kiriku menjadi bantal untuk kepala belakang tante Yuni, sedangkan tangan kananku meremas-remas payudara kiri tante Yuni. Tubuh tante Yuni seperti cacing kepanasan. Nafasnya terengah-engah, dan dia tidak berkonsentrasi lagi berciuman denganku. Tanpa diberi komando, tante Yuni tiba-tiba melepas celana dalamnya sendiri. Mungkin saking ‘horny’-nya, otak tante Yuni memberikan instinct bawah sadar kepadanya untuk segera melepas celana dalamnya. Aku ingin sekali melihat kemaluan tante Yuni saat itu, namun tante Yuni tiba-tiba menarik tangan kananku untuk mendarat di kemaluannya. ‘Alamak …’, pikirku kaget. Ternyata kemaluan/meki tante Yuni mulus sekali. Ternyata semua bulu jembut tante Yuni dicukur abis olehnya.

Dia menuntun jari tengahku untuk memainkan daging mungil yang menonjol di mekinya. Para pembaca pasti tau nama daging mungil ini yang aku maksudkan itu. Secara umum daging mungil itu dinamakan biji etil atau biji etel atau itil saja. Aku putar-putar itil tante Yuni berotasi searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam. Kini meki tante Yuni mulai basah dan licin. ‘Bernasss … kamu yah … aaahhhh … kok berYuni ama tante??’ tanya tante Yuni terengah-engah. ‘Kan tante yang suruh tangan Bernas ke sini??’ jawabku. ‘Masa sihhh … tante lupa … aahhh Bernasss … Bernasss … kamu kok nakal??’ tanya tante Yuni lagi. ‘Nakal tapi tante bakal suka kan??’ candaku gemas dengan tingkah tante Yuni. ‘Iyaaa … nakalin tante pleasee …’ suara tante Yuni mulai serak-serak basah. Aku tetap memainkan itil tante Yuni, dan ini membuatnya semakin menggeliat hebat. Tak lama kemudian tante Yuni menjerit kencang seakaan-akan terjadi gempa bumi saja. Tubuhnya mengejang dan kuku-kuku jarinya sempat mencakar bahuku. Untung saja tante Yuni bukan tipe wYunita yang suka merawat kuku panjang, jadi cakaran tante Yuni tidak sakit buatku. ‘Bernasss … tante datangggg uhhh oohhh …’ erang tante Yuni.

Aku yang masih hijau waktu itu kurang mengerti apa arti kata ‘datang’ waktu itu. Yang pasti setelah mengatakan kalimat itu, tubuh tante Yuni lemas dan nafasnya terengah-engah. Dengan tanpa di beri aba-aba, aku lepas celana dalamku yang masih saja menempel. Aku sudah lupa sejak kapan batang kontolku tegak. Aku siap menikmati tubuh tante Yuni, tapi sedikit ragu, karena takut akan ditolak oleh tante Yuni. Keragu-raguanku ini terbaca oleh tante Yuni. Dengan lembutnya tante Yuni berkata, ‘Bernas, kalo pengen tidurin tante, mendingan cepetan deh, sebelon gairah tante habis. Tuh liat kontol Bernas dah tegak kayak besi. Sini tante pegang apa dah panas.’. Aku berusaha mengambil posisi diatas tubuh tante. Gaya bercinta traditional. Perlahan-lahan kuarahkan batang kontolku ke mulut vagina tante Yuni, dan kucoba dorong kontolku perlahan-lahan. Ternyata tidak sulit menembus pintu kenikmatan milik tante Yuni. Selain mungkin karena basahnya dinding-dinding meki tante Yuni yang memuluskan jalan masuk kontolku, juga karena mungkin sudah beberapa batang kontol yang telah masuk di dalam sana. ‘Uhhh … ohhh … Bernasss … ahhh …’ desah tante Yuni. Aku coba mengocok-kocok meki tante Yuni dengan kontolku dengan memaju-mundurkan pinggulku. tante Yuni terlihat semakin ‘horny’, dan mendesah tak karuan. ‘Bernasss … Bernasss … aduhhh Bernasss … geliiii tante … uhhh … ohhhh …’ desah tante Yuni. Di saat aku sedang asyik memacu tubuh tante Yuni, tiba-tiba aku disadarkan oleh permintaan tante Yuni, sehingga aku berhenti sejenak. ‘Bernasss … kamu dah mau keluar belum … ‘ tanya tante Yuni. ‘Belon sih tante … mungkin beberapa saat lagi … ‘ jawabku serius. ‘Nanti dikeluarin di luar yah, jangan di dalam. tante mungkin lagi subur sekarang, dan tante lupa suruh kamu pake pengaman. Lagian tante ngga punya stock pengaman sekarang. Jadi jangan dikeluarin di dalam yah.’ pinta tante Yuni. ‘Beres tante.’ jawabku. ‘Ok deh … sekarang jangan diam … goyangin lagi dong …’ canda tante Yuni genit. Tanpa menunda banyak waktu lagi, aku lanjutkan kembali permainan kami. Aku bisa merasakan meki tante Yuni semakin basah saja, dan aku pun bisa melihat bercak-bercak lendir putih di sekitar bulu jembutku.

Aku mulai berkeringat di punggung belakangku. Muka dan telingaku panas. tante Yuni pun juga sama. Suara erangan dan desahan-nya makin terdengar panas saja di telingaku. Aku tidak menyadari bahwa aku sudah berpacu dengan tante Yuni 20 menit lama-nya. Tanda-tanda akan adanya sesuatu yang bakalan keluar dari kontolku semakin mendekat saja. ‘Bernasss … ampunnn Bernasss … kontolnya kok kayak besi aja … ngga ada lemasnya dari tadi … tante geliii banget nihhh …’ kata tante Yuni. ‘tante … Bernasss dah sampai ujung nih …’ kataku sambil mempercepat goyangan pinggulku. Puting tante Yuni semakin terlihat mencuat menantang, dan kedua payudara pun terlihat mengeras. Aku mendekatkan wajahku ke wajah tante Yuni, dan bibir kami saling berciuman. Aku julur-julurkan lidahku ke dalam mulutnya, dan lidah kami saling berperang di dalam. Posisi bercinta kami tidak berubah sejak tadi. Posisiku tetap di atas tubuh tante Yuni. Aku percepat kocokan kontolku di dalam meki tante Yuni. tante Yuni sudah menjerit-jerit dan meracau tak karuan saja. ‘Bernasss … tante datangggg … uhhh … ahhhhhh …’ jerit tante Yuni sambil memeluk erat tubuhku. Ini pertanda tante Yuni telah ‘orgasme’. Aku pun juga sama, lahar panas dari dalam kontolku sudah siap akan menyembur keluar. Aku masih ingat pesan tante Yuni agar spermaku dilepas keluar dari meki tante Yuni. ‘tante … Bernassss datangggg …’ jeritku pYunik. Kutarik kontolku dari dalam meki tante Yuni, dan kontolku memuncratkan spermanya di perut tante Yuni. Saking kencangnya, semburan spermaku sampai di dada dan leher tante Yuni. ‘Ahhh … ahhhh … ahhhh …’ suara jeritan kepuasanku. ‘Idihhh … kamu kecil-kecil tapi spermanya banyak bangettt sih …’ canda tante Yuni. Aku hanya tersenyum saja. Aku tidak sempat mengomentari candaan tante Yuni. Setelah semua sperma telah tumpah keluar, aku merebahkan tubuhku di samping tubuh tante Yuni. Kepalaku masih teriang-iang dan nafasku masih belum stabil. Mataku melihat ke langit-langit apartment tante Yuni.

Aku baru saja menikmati yang namanya surga dunia. tante Yuni kemudian memelukku manja dengan posisi kepalanya di atas dadaku. Bau harum rambutku tercium oleh hidungku. ‘Bernas puas ngga??’ tanya tante Yuni. ‘Bukan puas lagi tante … tapi Bernas seperti baru saja masuk ke surga’ jawabku. ‘Emang meki tante surga yah??’ canda tante Yuni. ‘Boleh dikata demikian.’ jawabku percaya diri. ‘Kalo tante puas ngga??’ tanyaku penasaran. ‘Hmmm … coba kamu pikir sendiri aja … yang pasti meki tante sekarang ini masih berdenyut-denyut rasanya. Diapain emang ama Bernas??’ tanya tante Yuni manja. ‘Anuu … Bernas kasih si Bernas Junior … tuh tante liat jembut Bernas banyak bercak-bercak lendir. Itu punya dari meki tante tuh.

Lihat Juga :  Cerita Bokep Terbaru 2016 Tanteku Hamil Karna Aku

Banjir keluar tadi.’ kataku. ‘Idihhh … mana mungkin …’ bela tante Yuni sambil mencubit kontolku yang sudah mulai loyo. ‘Bernas sering-sering datang ke rumah tante aja. Nanti kita main poker lagi. Mau kan??’ pinta tante Yuni. ‘Sippp tante.’ jawabku serentak girang. Malam itu aku nginap di rumah tante Yuni. Keesokan harinya aku langsung pulang ke rumah. Aku sempat minta jatah 1 kali lagi dengan tante Yuni, namum ajakanku ditolak halus olehnya karena alasan dia ada janji dengan teman-temannya. Sejak saat itu aku menjadi teman sex gelap tante Yuni tanpa sepengetahuan orang lain terutama ayah dan ibu. tante Yuni senang bercinta yang bervariasi dan dengan lokasi yang bervariasi pula selain apartementnya sendiri.

Kadang bermain di mobilnya, di motel kilat yang hitungan charge-nya per jam, di ruang VIP spa kecantikan ibuku (ini aku berusaha keras untuk menyelinap agar tidak diketahui oleh para pegawai di sana). tante Yuni sangat menyukai dan menikmati sex. Menurut tante Yuni sex dapat membuatnya merasa enak secara jasmYuni dan rohYuni, belum lagi sex yang teratur sangatlah baik untuk kesehatan. Dia pernah menceritakan kepadaku tentang rahasia awet muda bintang film Hollywood tersohor bernama Elizabeth Taylor, yah jawabannya hanya singkat saja yaitu sex dan diet yang teratur. tante Yuni paling suka ‘bermain’ tanpa kondom. Tapi dia pun juga tidak ingin memakai sistem pil sebagai alat kontrasepsi karena dia sempat alergi saat pertama mencoba minum pil kontrasepsi. Jadi di saat subur, aku diharuskan memakai kondom. Di saat setelah selesai masa menstruasinya, ini adalah saat di mana kondom boleh dilupakan untuk sementara dulu dan aku bisa sepuasnya berejakulasi di dalam mekinya.

Apabila di saat subur dan aku/tante Yuni lupa menyetok kondom, kita masih saja nekat bermain tanpa kondom dengan berejakulasi di luar (meskipun ini rawan kehamilannya tinggi juga). Hubungan gelap ini sempat berjalan hampir 4 tahun lamanya. Aku sempat memiliki perasaan cinta terhadap tante Yuni. Maklum aku masih tergolong remaja/pemuda yang gampang terbawa emosi. Namun tante Yuni menolaknya dengan halus karena apabila hubunganku dan tante Yuni bertambah serius, banyak pihak luar yang akan mencaci-maki atau mengutuk kami. tante Yuni sempat menjauhkan diri setelah aku mengatakan cinta padanya sampai aku benar-benar ‘move on’ dari-nya. Aku lumayan patah hati waktu itu (hampir 1.5 tahun), tapi aku masih memiliki akal sehat yang mengontrol perasaan sakit hatiku. Saat itu pula aku cuti ‘bermain’ dengan tante Yuni.

Saat ini aku masih berhubungan baik dengan tante Yuni. Kami kadang-kadang menyempatkan diri untuk ‘bermain’ 2 minggu sekali atau kadang-kadang 1 bulan sekali. Tergantung dari mood kami masing-masing. tante Yuni sampai sekarang masih single. Aku untuk sementara ini juga masih single. Aku putus dengan pacarku sekitar 6 bulan yang lalu. Sejak putus dengan pacarku, tante Yuni sempat menjadi pelarianku, terutama pelarian sex. Sebenarnya ini tidak benar dan kasihan tante Yuni, namun tante Yuni seperti mengerti tingkah laku lelaki yang sedang patah hati pasti akan mencari seorang pelarian. Jadi tante Yuni tidak pernah merasa bahwa dia adalah pelarianku, tapi sebagai seorang teman yang ingin membantu meringkankan beban perasaan temannya

cerita dewasa, cerita sex, cerita ngentot, ngentot tante, cerita dewasa terbaru, cerita sex terbaru, cerita ngentot terbaru, tante girang, tante genit. meki genit, meki tante.

Tamat

Incoming search terms:

Crtngesex, meki tante, cerita meki, tante yuni, CeriTa sex onani dgn sedarah, mekitante, tante montok sange, bokepjilatitil, jilat itil, bokep jilatin itil, cerita sex bergambar full, ceritakampungsex, cerita gay bergambar, jilat itil bokep, Tante narsis hot, bokep tante yuni, ceritasexngemutitil, tante yuni meki genit, streming bokep jilatin itil, streaming jilatin ngemut itil, cerita sex setengah baya bergambar, cerita menstruasi dengan bantal, cerita sex tanteku hamil, Genitnya mama temanku, tante sange narsis, cerita sex tanteku yg genit, nikmatnya emut susu tante montok, yuni enak tante, Tanteku ngajak ngentot sampai hamil bergambar, Tanteyuni, bokep jilat, tanteku suka kkontolku, bokep sex jijik, bokep genit, cerita jilat itil hot, cerita itil di jilat rame rame, Cerita hot th Yuni pelanggan ku yg msh hot, cerita hot ibuku, yuni spa bali bokep com, bokep nikmat nya susu mama

Itil Support